Belum berjudul [Proyek 50K] bagian ke - 1

Cinta memang misterius dari mana hadir dan kemana arahnya tidak ada yang bisa menebak. Cinta juga mudah menular, seperti virus flu yang mudah menghinggapi siapa saja. Tidak peduli kaya miskin, jabatan tinggi atau rendah, sedang sibuk atau banyak bengong. Siapa saja bisa terkena virus ini.

Seperti diriku ini, mungkin, sudah tertular virusnya atau masih dalam taraf inkubasi. Entahlah, yang jelas sekarang aku sendiri sedang bingung menghadapi situasi hatiku yang sebenarnya. Kebingungan yang membuat perutku mendadak mulas kalau ingat satu nama itu. Nama penyebar virus cinta ini, kalau boleh dikatakan begitu.



Oke, begini ceritanya. Sebentar, perkenalkan dulu, namaku Kania, seorang karyawati swasta yang baru saja bekerja. Ya, aku lulus dengan nilai IPK biasa saja, dan langsung diterima bekerja di perusahaan yang lumayan bonafide. Banyak orang mengatakan kalau wanita, muda, single, akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Mungkin begitulah yang terjadi padaku. Melihat perusahaan tempatku bekerja, sepertinya memang sulit untuk masuk kesana, tetapi dengan tiga point tadi, aku bisa diterima bekerja. Atau, ada pertimbangan lain? Entahlah. Yang jelas, aku tidak mau mempermasalahkan ini.

Seperti biasanya, serakan kertas-kertas dokumen dan folder-folder di atas meja kantorku seperti menandakan kacaunya hari-hariku. Waktu lima hari kerja -nya ternyata masih saja kurang bagiku. Bukan karena malas, tetapi memang pekerjaan menuntutnya demikian.

Ya, aku yang seorang sekertaris perusahaan ini, memang tidak memiliki asisten yang dapat mewakili pekerjaanku. Makanya, aku selalu kesulitan mengambil waktu cuti, apalagi kalau sedang banyak kunjungan tamu perusahaan ataupun boss besar yang datang dari kantor pusat. Bahkan handphoneku tidak pernah berhenti bergetar.

Seperti hari ini, sejak pagi belum sempat bersantai barang sejenak. Sisi cangkir tehku masih bersih tanda belum tersentuh bibir bergincuku. Telepon disamping meja berulang kali berdering. Aku angkat telepon itu dengan mata tetap sibuk membaca beberapa dokumen laporan, mencoretkan pena yang tergenggam di jemariku.

“Pagi Pak, iya Pak… dokumen Bapak sedang kami pelajari.. baik Pak, nanti saya sampaikan pada pimpinan kami.. Terima kasih dan selamat pagi.”

“Oke.. oke… laporan sudah siap saya kirimkan. Mungkin dengan ekspedisi sore ini. Oke.. Terima kasih.”

“Yan.. laporan hariannya belum kuterima ya… bisa dikirim sekarang?” Kataku sambil merapikan dokumen yang sudah selesai dikerjakan. Tiba-tiba pandanganku tersedot pada sebuah brosur biro perjalanan. Foto-foto yang menarik tentang tempat wisata yang ditawarkan sekilas menarik perhatianku. Aku memang sangat suka dengan foto-foto pemandangan. Terkadang dengan memandang sebuah foto, imajinasiku melayang seakan-akan aku ada disana.

Dengan rasa penasaran, kucari keterangan dan contact person dari brosur itu.
Sip, sudah kusimpan data-datanya di handphoneku.


Sebuah titik ditambah titik, ditambah lagi beberapa titik, kemudian saling dihubungkan, akan menghasilkan garis lurus, berkelok-kelok, juga garis lengkung manis. Tergantung dari seberapa banyak titik yang membentuk.

Mataku tak berkedip, otakku berputar. Foto itu, yang sekarang terpampang di layar monitorku, itu foto yang sama dengan yang ada di brosur tadi. Rasa penasaran membuat tanganku tanpa sadar mengklik kesana kemari. Hanya nama fotografernya yang menjadi keterangan. Tidak ada yang lain.

Entah apa yang membuat aku begitu tertarik dengan foto itu. Terpampang gambar gunung, seperti Gunung Fuji, danau seperti Danau Toba, dan banyak lainnya yang menjadikan satu wujud foto yang imajinatif.

Mungkin penasaranku pada lokasinyalah yang membuat aku semakin nekad. Tanpa sadar aku mencari-cari keterangan tentang si fotografer tadi… Agung Pradana.. hmmm, baiknya aku tanya langsung ke Agung ini, dimana lokasi yang seperti di foto itu.

Jemariku sibuk mengetik sebuah email, dan .. klik send. Terkirim sudah email ke Agung Perdana.




**

Alam adalah senyawa keindahan dan keagungan
Tersusun dari seluruh komponennya
Mencipta suatu kerayaan
Pada hati yang terus mencari kemurnian jiwa



Aku suka keindahan. Segala sesuatunya yang mengenai hal yang indah-indah pasti membuatku tergugah. Itu sebabnya aku begitu menggilai fotografi. Banyak hal indah bisa kurekam. Dengan tambahan kreatifitas, foto-foto itu akan semakin indah.

Oh ya, namaku Agung. Pekerjaanku freelance sebuah di sebuah majalah dan merangkap asisten pada sebuah studio foto.

Sebagai fotografer, aku sering mendapat job memotret untuk acara pernikahan. Dari pre-wedding sampai resepsinya. Ini rasanya juga cocok untukku yang hobi bertualang. Jalan-jalan ketempat-tempat yang asing dan terpencil, memotret sana-sini, selain karena pekerjaanku sebagai fotografer di sebuah majalah, juga karena travelling adalah hobi lainku juga.

Aku teringat perkenalanku dengan seorang wanita karir, sekertaris sebuah perusahaan, juga gara-gara hobi fotografiku ini.

Suatu siang, saat aku sedang mengerjakan pekerjaan editing foto-foto pre-wedding dari seorang klien, ada sebuah email yang masuk. Kukira mengenai pesanan job atau tugas meliput. Ternyata hanya sebuah pertanyaan atas foto yang dilihatnya.

Wanita itu menanyakan dimana lokasi yang ada di foto yang dilihatnya itu. Wah ..wah.. kebetulan aku saat itu sedang sibuk bukan kepalang. Rasanya sungkan juga menjawab pertanyaanya. Bukannya aku pelit, mengingat saat itu konsentrasiku sedang sulit terbagi.

Lalu aku menunda menjawab emailnya. Ternyata sampai pekerjaanku selesai, aku sudah lupa dengan niatku. Berhari-hari aku melupakan email tersebut. Sampai pada suatu hari, ada email susulan yang menanyakan email sebelumnya, apakah aku sudah menerimanya atau belum.

Saat itu, tiba-tiba handphoneku bordering, ada panggilan tugas menanti. Aku harus keluar kota untuk meliput acara tahunan yang diadakan sebuah daerah wisata. Liputan kebudayaan memang sangat ditunggu-tunggu untuk tampilan berita selanjutnya.

Aku bergegas menyiapkan diri. Lupa lagi kalau aku seharusnya menjawab email tersebut. Ah sudahlah, mungkin dia juga sudah melupakannya.

Satu minggu berlalu, baru kuingat lagi perihal email tersebut karena diingatkan oleh email susulan lagi darinya. Seserius itu ternyata keingintahuannya.

Akupun bersegera membalas emailnya. Dengan tak lupa mohon maaf padanya kukatakan bahwa lokasi di foto tersebut adalah gabungan dari beberapa lokasi yang kuedit menjadi satu kesatuan foto.

Kania, wanita itu, membalas emailku kembali, agar diberitahukan satu persatu lokasinya. Dia juga minta ijin diberikan foto mentahnya untuk koleksi.

Kupikir permintaanya sedikit aneh. Maka dari itu aku tak menggubrisnya. Lagipula, aku sudah lupa kusimpan dimana file-file foto tersebut. Jadi kuputuskan untuk menjawab emailnya dengan meminta maaf karena aku belum sempat mencarikan filenya. Akupun sekedar berjanji, akan mengirimkannya apabila suatu saat file-file tersebut ditemukan

Email terkirim, kepada Kania Satyati.

~Bersambung~

**

1 komentar:

OMG... Panjaaaaangnyaaa.. haha.. Love it!!!

*kalo sudah lengkap baru saya baca, kwkwkwkwk*