Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

maafkan aku



menangkap segala galaumu
mungkin salahku
telah lancang menarikmu
menyusuri lipatan hatiku
membiarkanmu tersesat disitu
menyulut emosi jiwamu
dalam galau dan kelu
bukan maksudku
membuatmu begitu
*
maafkan aku
telah menyimpan namamu
di satu sudut hatiku
aku
kamu
selalu
mungkinkah selalu? akupun tak tahu.
yang ku tahu
ternyata aku
tlah sayang padamu
terlalu...
hu hu hu :’(
*
titip satu harapku
jangan buang lembaranku
seperti diary itu
biarkan hujan waktu
meluruhkan ragu
maya nyataku adalah satu
*




kunang-kunang dan bintang



***
kunang-kunang diujung kelam
saling berbagi sinar dan kehangatan
berbaris, berkelompok menyusuri gelap
*
satu kunang-kunang terbang sendiri
berharap bertemu kekasih hati
yang sinarnya selalu menemani
dalam malam-malam abadi
*
satu kunang-kunang diujung gelap
berbatas lampu pijar panas
membuatnya silap
hingga hangus lengas
bintang yang bersinar terang malam itu
kini menjadi sepasang
***

semalam dalam cerita

***
kabarnya
semalam bulan hilang
belum sempat kutanyakan
kenapa tak menyapaku
dan kau hanya tersenyum
jemarimu menggenggam

bibirmu
menyentuh tipis telingaku
desahnya membisik
ini bulanmu. dalam genggamku

***
puisi iseng hasil sambung-menyambung.

ini harimu, Khina.....

tadi malam 
tepat ketika perguliran waktu
saat kemarin menjadi hari ini
satu kecupan kami tempatkan 
di pipi empukmu

kecupan di pipi kiri
padanya dititipkan doa-doa
yang didaraskan dalam mazmur
kidung pepujian kepadaNya
tempat segala sesuatu berawal

ada cintaNya
yang selalu menopang hitam-putih hidupnya

ada rengkuhan tanganNya
yang selalu melindungi gerak langkahnya
menepis debu kotor di tubuhnya

ada namaNya
yang selalu diingat dalam tiap denyut nadi dan helaan nafasnya

kecupan di pipi kanan
padanya dihembuskan harapan-harapan
segala hal yang menjadikan biji bertunas
pucuk semi daun menelapak
kuncup bunga wangi merekah
buah yang membulir dan matang

selamat hari lahir
putri kecilku
tumbuhlah bersama alam 
menjadi sebuah titik pelengkap lukisan semesta
tuhan memberkatimu

kecup... cup!







Tuhan, Aku Bertanya

Tuhan, mengapa kau ciptakan dahaga, kalau mendengarMu adalah kesejukan?
Tuhan tersenyum…

Tuhan, mengapa kau ciptakan lapar, kalau menyapaMu adalah kepuasan?
Tuhan tersenyum…

Tuhan, mengapa Kau ciptakan kegalauan, kalau bersamaMu adalah damai?
Tuhan tersenyum…

Tuhan, mengapa Kau ciptakan benci kalau Engkau selalu penuh cinta?
Tuhan hanya tersenyum…

Tuhan, mengapa Engkau tersenyum saat aku kehilangan segalaNya?
Anakku…  tanyalah hatimu… dia tak akan menjawab. Tapi dia akan menunjukannya.
Dan saat kau sudah mengerti semuanya, pinjamkan hatimu, untuk kupakai sebarkan cintaku.



**Kompasiana, 25 Mei 2010

Selamanya Cinta


Satu langkah terarungi bersama
Saat semu dan hakiki menjaga
Indahnya kehidupan kita
*
Tercengkeram hati ini
Namun tiada berontak
Tak terpasung jiwa
*
Terjerat rasa ini
Namun tiada teronak
Tak berbalut luka
*
Banyak kata yang ingin terucapi
tanpa satupun dapat mewakili
indahnya rasa ini
*
Hanya ungkapan bisikan abadi
yang terus mengalunkan nada hati
selamanya cinta bersemi

——

Remembering the moment on beginning our journey - (211104)
Sumber foto: www.tybinc.com
**Kompasiana, 21 Mei 2010

Bahagia Dalam Damai

Sekarang waktu kita untuk berdampingan

Saling berpegangan melawan rasa

Memohon pada sang detak

Sejenak membiarkan detiknya

Terpasung dalam bahagia abadi

Karena … sesaat lagi

Waktumu bukan milikku lagi






Dalam hatimu yang beku

Kutitipkan setitik kehangatan cintaku

Yang akan selalu menemanimu

mengembara menghadap Sang Khalik







Selamat mengarungi ruang kehidupan baru

Kan kuluangkan segenggam rindu

Diujung biru hatiku

Yang akan selalu tertutup rapat

Karena kau saja

Yang dapat membukanya





———————-

* Untuk seorang sahabat (maaf kalo puisinya masih jelek)

** Terinspirasi dari kisah sedih di Cina, Zhuang Huagui (26 tahun) yang berencana menikah pada tanggal 4 Februari 2010. Tetapi pada tanggal 28 Januari 2010, calon istrinya, Hu Zhao’e meninggal karena ditusuk oleh perampok dirumahnya. Zhuang memutuskan untuk tetap mengadakan upacara pernikahan, yang dilanjutkan dengan upacara pemakaman bagi istrinya, Hu Zhao’e.

*** Foto-foto dari milis

Tahukah Kau?

Tahukah kau,

Bulan dan Bintang ditakdirkan untuk bersama

Dan Matahari adalah kawan seperjuangan dalam masa yang berbeda

Seperti juga halnya,

Bunga dan kupu-kupu bersejoli

dalam naungan Pohon yang rindang

namun tak pernah mereguk manisnya madu.

*
Tahukah kau,

Hujan dan Pelangi adalah kesedihan dalam harapan

sesekali petir menerangi dan guruh memekakan

namun semuanya mendendangkan irama harmoni

*
Tahukah kau,

itulah cintaku padanya

yang terlindung dalam damaimu


**Kompasiana, 25 Februari 2010

Sang Lelaki Tangguh

Menangis …. hanya memeluk bundanya

Tertawa …. hanya berbagi dengan bundanya

Belajar …. hanya dari mulut bundanya

Tidur …. Hanya dalam dekapan bundanya

..Ayah..

Maaf, kata bundanya, tidak ada ayah untukmu, tapi bunda sanggup buatmu kelak menjadi lelaki tangguh.

Namun untuk saat ini, bundalah lelaki tangguhmu.

Bunda akan ajarkan bagaimana menangis dalam kesepian, saat kau pertama kali bersapa dengan dunia ini. Tanpa siapapun wahai sang pemberi semangat, agar kau menjadi lelaki yang kuat.

Bunda akan ajarkan bagaimana tertawa dalam ketawaran hati, saat kecemasan berpihak dan hanya sepi yang menggigit, agar kau tak pernah merasa sepi sendiri.

Bunda akan ajarkan padamu bahwa dunia tempat segalanya, namun surgalah semuanya tertuju, agar kau menjadi lelaki bermoral penuh hati nurani.

Bunda akan mendekapmu tidur sampai kau selalu merasa aman, agar kau menjadi lelaki penyayang yang selalu melindungi yang lemah.

Namun sekali lagi, tidak ada kata ayah untukmu, biarlah bunda saja yang menjadi lelaki tangguhmu. Agar kau mengerti bagaimana menjadi kuat dalam kelembutan.

~ dedicated to my lovely sister, thanks for the inspiration~