Jadilah milikku, mau?"




Kau tahu betapa hati ini hanya tertuju padamu. Sekian lama sudah rajutan asmara kita untai bersama, hingga akhirnya tinggal mengikatkan satu simpul. Menjadikannya kuat, hingga tak terurai. Menjadi satu bagian utuh yang tak terpisahkan lagi. Kaupun semestinya begitu, yang kutahu hatimu tak pernah terbuka pada siapapun. Cukup kepadaku, seperti yang selalu kau dengungkan pada bisik di telingaku. 

“Jadilah milikku, mau?”

Aku menangis. Bukannya menolak, namun aku tak sanggup menjawabnya. Padahal sekian lama aku mempersiapkan segala jawab apabila tanya ini hadir. Dengan segala kebesaran hati, aku sudah sangat siap dengan tanya ini. Dan dengan segala cinta, sudah kusiapkan jawab  atas tanyamu. Hingga akhirnya saat itu tiba, aku justru hanya diam terpaku.

“Jadilah milikku, mau?”

Aku menggelengkan kepala. Bukan. Aku bukan menolak pintamu, hanya saja kepalaku harus kugelengkan sekencang-kencangnya. Agar bayangmu hilang dari kepalaku. Juga segala bisikmu di telingaku semalam.  Biar kenanganmu saja yang jadi milikku.

Hanya mampu berdoa, semoga kau beristirahat dengan tenang, sambil terus kukutuk bis sialan yang merenggutmu dariku.  

- Hari ke-lima  #15HariNgeblogFF, start January 12, 2012.
- 160 kata 

0 komentar: