Tampilkan postingan dengan label kompasiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kompasiana. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh
Idea
komentar (4)
Saya cinta bunga. Saya suka bunga, baik itu bunga hidup, ataupun hanya dalam bentuk foto atau gambar saja. Saking tergila-gilanya dengan bunga, saya sering berkhayal punya taman luas yang ditumbuhi segala macam bunga-bungaan.
Kecintaan saya pada bunga tumbuh sejak saya duduk di bangku SD. Saat itu saya sering memperhatikan nenek saya dalam merawat tanaman. Nenek saya senang bertanam. Beliau mempunyai koleksi tanaman mawar yang bermacam-macam. Salah satunya adalah mawar “matador”, istilah nenek saya. Disebut matador karena bunganya besar dan kelopaknya sangat banyak, berwarna merah tua.
Setiap hari tanaman-tanamannya dirawat seperti merawat bayi. Disirami secukupnya, kemudian dedaunannya diolesi susu dan dilap. Sambil tak lupa diajak berbicara, bercerita layaknya seorang nenek mendongengi cucunya.
Diposting oleh
Idea
komentar (2)
Ramai namun sunyi, itu yang kutangkap dari penjabaran indraku. Aku heran, bisa-bisanya aku berjalan sendiri hingga sampai ditempat ini.
Sedetik aku takjub dengan alam sekitarnya. Danau itu, gunung itu, jelas-jelas aku pernah melihatnya. Duh… kenapa aku jadi ternganga heran begini? Ini khan pemandangan yang seperti didalam foto itu? Yang selalu muncul di otakku. Kenapa aku bisa berada disini?
Aku memutar pandangan ke sekeliling. Sepi sekali, tidak ada rumah penduduk, tidak ada seorangpun. Wah, ternyata aku tersesat. Tiba-tiba aku merasakan hawa hangat berdesir. Ditempat yang demikian sepi, aku tidak merasakan ketakutan sama sekali. Malah merasa nyaman dan begitu begitu akrab. Aku seperti menemukan taman indahku. Tempat bermainku. Aku berlari kesana-kemari. Begitu lepas, tertawa dan menyanyi. Mmmm untungnya disini sepi, jadi tidak akan ada yang mendengar suara falsku ini pikirku.
Pandanganku tertuju pada satu sosok dipinggir danau itu. Diantara pohon-pohon besar itu. Ada sesosok yang tidak asing untukku, memperhatikanku menyanyi. Dia tertawa. Aku tersipu malu, menyadari suaraku yang fals tadi. Aku berlari kearahnya karena aku begitu mengenalinya. Tapi dia malahan berlari menjauh. Aku berlari sekuat tenaga, dia semakin menjauh.
Tiba-tiba aku tersandung batu besar dan.. Olala, aku terjatuh dari tempat tidurku. Sialan, ternyata aku bermimpi. Terbelit selimut dan bantal yang jatuh dimukaku, aku terbangun. Novel misteri yang sedang kubaca terbuka setengah halamannya.
Aku tepekur. Siapa gerangan yang tadi muncul di dalam mimpiku? Adakah dia pria yang selalu hadir setiap pagi melintas di depan rumahku. Kucoba ingat-ingat bagaimana bentuk mukanya. Muka sosok yang hadir di dalam mimpiku, juga muka pria yang selalu melintasi pagiku dengan tergesa.
Ah, dia… benar, itu dia. Pria itulah yang memang merasuki alam mimpiku. Pertanyaanku sekarang, siapa sebenarnya dia?
Kulirik jam di dinding kamarku, hampir pukul tiga dinihari. Aku beranjak dari tempat tidur untuk mencuci muka. Aku teringat, tadi sebelum tertidur aku sedang membaca novel misteri yang belakangan sedang marak diperbincangkan. Aku mengikuti keingin tahuanku untuk menyibak apa sebenarnya isi novel misteri itu. Aku ingin mengetahui kenapa novel ini begitu fenomenal sehingga orang-orang ramai membicarakannya. Aku ingin tahu. Maka, aku menunda kebiasaan tidur lamaku demi menghabiskan separuh cerita novel itu.
Kembali kubaca halaman demi halaman novel itu. suasana hening subuh membuat aura novel itu benar-benar mengeluarkan sisi misterinya. Bulu kudukku kadang-kadang berdiri. Namun, rasa penasaran terus menggelayuti pikirku dan mengalahkan rasa takutku.
Tak terasa hampir seluruh halaman novel itu telah kulahap. Aku membalik halaman terakhir. Tertera tulisan: diangkat dari kisah nyata. Misteri meninggalnya pria muda di jalan kemangi 23. Konon katanya pria muda ini adalah penggemar rahasia seorang perempuan yang tinggal di kawasan jalan kemangi itu. Kematiannya menjadi misterius karena tak satu orang pun tahu, bagaimana cara dia menghabisi nyawanya. Dia, kadang selalu menampakkan diri terhadap perempuan yang dia cintai itu.
Aku bergidik ngeri. Aku selalu melihat sosok pria yang tak pernah kulihat kecuali pagi hari. Mungkinkah pria itu adalah tokoh dari kisah yang kubaca ini? Adakah perempuan yang dia sukai itu aku? O tidak… Jalan kemangi 23 itu tak jauh dari rumahku. Dan memang, dua tahun lalu, sempat ditemukan sosok pria, meninggal bunuh diri di sebuah rumah kost yang tak jauh dari rumahku.
Tiba-tiba aku bergidik ngeri. Bulu kudukku berdiri sempurna. Aku melempar novel itu dan membenamkan diriku dalam selimut. Berharap hari segera pagi. (DM/HS)
-oOo-
* Tulisan kolaborasi Hadi Samsul + Deasy
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Tuhan, mengapa kau ciptakan dahaga, kalau mendengarMu adalah kesejukan?
Tuhan tersenyum…
Tuhan, mengapa kau ciptakan lapar, kalau menyapaMu adalah kepuasan?
Tuhan tersenyum…
Tuhan, mengapa Kau ciptakan kegalauan, kalau bersamaMu adalah damai?
Tuhan tersenyum…
Tuhan, mengapa Kau ciptakan benci kalau Engkau selalu penuh cinta?
Tuhan hanya tersenyum…
Tuhan, mengapa Engkau tersenyum saat aku kehilangan segalaNya?
Anakku… tanyalah hatimu… dia tak akan menjawab. Tapi dia akan menunjukannya.
Dan saat kau sudah mengerti semuanya, pinjamkan hatimu, untuk kupakai sebarkan cintaku.
**Kompasiana, 25 Mei 2010
Tuhan tersenyum…
Tuhan, mengapa kau ciptakan lapar, kalau menyapaMu adalah kepuasan?
Tuhan tersenyum…
Tuhan, mengapa Kau ciptakan kegalauan, kalau bersamaMu adalah damai?
Tuhan tersenyum…
Tuhan, mengapa Kau ciptakan benci kalau Engkau selalu penuh cinta?
Tuhan hanya tersenyum…
Tuhan, mengapa Engkau tersenyum saat aku kehilangan segalaNya?
Anakku… tanyalah hatimu… dia tak akan menjawab. Tapi dia akan menunjukannya.
Dan saat kau sudah mengerti semuanya, pinjamkan hatimu, untuk kupakai sebarkan cintaku.
**Kompasiana, 25 Mei 2010
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Satu langkah terarungi bersama
Saat semu dan hakiki menjaga
Indahnya kehidupan kita
*
Tercengkeram hati ini
Namun tiada berontak
Tak terpasung jiwa
*
Terjerat rasa ini
Namun tiada teronak
Tak berbalut luka
*
Banyak kata yang ingin terucapi
tanpa satupun dapat mewakili
indahnya rasa ini
*
Hanya ungkapan bisikan abadi
yang terus mengalunkan nada hati
selamanya cinta bersemi
——
Sumber foto: www.tybinc.com
**Kompasiana, 21 Mei 2010
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Kulit putihnya semakin bersinar dalam bebatan gaun pengantin putih gadingnya. Gaun dengan potongan yang sederhana itu justru terlihat mewah ditubuhnya. Bahan silk dipadu brokat yang tidak terlalu ramai, dengan sedikit berpayet, tetap berkilau indah dimataku.
Belum lagi wajah manisnya yang dipoles bedak dan blush on warna cream, eye shadow yang tidak terlalu kontras dan polesan warna peach dibibir indahnya. Terlihat sangat sempurna, bagi mataku, dan aku berharap demikian juga bagi siapa saja yang nantinya akan melihatnya.
Ah, rasanya aku sudah tidak sabar lagi menanti saat itu tiba, yang sebetulnya hanya tinggal hitungan menit saja. Saat dia akan berjalan dengan anggunnya, menuju altar kebahagian. Tempat berikrar janji sehidup semati yang pastinya saat ini telah diperindah dipenuhi dengan rangkaian mawar putih dan baby breath.
Dan kemudian, ketika momen-momen itu mengalir, sampai pada satu prosesi, dimana mempelai pria akan memberikan kecupan pertamanya pada mempelai wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu… ah .. mengapa tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa? Bukankah tadi aku begitu menanti-nantikannya? Menyaksikan kebahagiaan terpancar dari binar cantik matanya adalah impian terbesarku..
Bibirku bergetar. Bagaimana bisa aku mengabaikan semua perasaanku ini? Hatiku sedikit menjerit, pertanda aku belum bisa berdamai dengan kenyataan. Mungkin hanya perlu keikhlasan yang lebih dari sekedar ingin membahagiakan dirinya. Aku mencintainya. Aku mencintainya dan ingin membahagiakannya.
Waktunya sudah tiba, sosok anggunnya melangkah menuju altar didampingi sang ayah.
Sayup-sayup kudengar lagu pengiring itu. Seketika kehangatan menjalari sendir-sendiku, hatiku diliputi rasa damai. Rasa yang kemudian membuat hatiku yang kecil ini serasa menjadi ringan dan lapang. Sebegitu lapangya sehingga membuat diriku terasa bebas merdeka. Sedemikian ringannya serasa diri ini siap terbang lepas. Senyumku memancar begitu tulus, aku merelakannya, aku merelakannya, memasuki gerbang cinta ini, bersamanya, pria berjas hitam itu, yang sejak tadi sudah menantikanmu dengan tidak sabar.
Selamat tinggal cintaku. Aku tak memerlukan lagi cintamu, karena cintaNya telah memanggilku. Sekarang aku siap berjalan bersamaNya, berpegangan pada tanganNya yang kokoh. Doakan kedamaian untukku.
**Kompasiana, 14 Februari 2011
Belum lagi wajah manisnya yang dipoles bedak dan blush on warna cream, eye shadow yang tidak terlalu kontras dan polesan warna peach dibibir indahnya. Terlihat sangat sempurna, bagi mataku, dan aku berharap demikian juga bagi siapa saja yang nantinya akan melihatnya.
Ah, rasanya aku sudah tidak sabar lagi menanti saat itu tiba, yang sebetulnya hanya tinggal hitungan menit saja. Saat dia akan berjalan dengan anggunnya, menuju altar kebahagian. Tempat berikrar janji sehidup semati yang pastinya saat ini telah diperindah dipenuhi dengan rangkaian mawar putih dan baby breath.
Dan kemudian, ketika momen-momen itu mengalir, sampai pada satu prosesi, dimana mempelai pria akan memberikan kecupan pertamanya pada mempelai wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu… ah .. mengapa tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa? Bukankah tadi aku begitu menanti-nantikannya? Menyaksikan kebahagiaan terpancar dari binar cantik matanya adalah impian terbesarku..
Bibirku bergetar. Bagaimana bisa aku mengabaikan semua perasaanku ini? Hatiku sedikit menjerit, pertanda aku belum bisa berdamai dengan kenyataan. Mungkin hanya perlu keikhlasan yang lebih dari sekedar ingin membahagiakan dirinya. Aku mencintainya. Aku mencintainya dan ingin membahagiakannya.
Waktunya sudah tiba, sosok anggunnya melangkah menuju altar didampingi sang ayah.
Today, I will walk with my hands in God….
Today, I will trust in Him and not be afraid…
Sayup-sayup kudengar lagu pengiring itu. Seketika kehangatan menjalari sendir-sendiku, hatiku diliputi rasa damai. Rasa yang kemudian membuat hatiku yang kecil ini serasa menjadi ringan dan lapang. Sebegitu lapangya sehingga membuat diriku terasa bebas merdeka. Sedemikian ringannya serasa diri ini siap terbang lepas. Senyumku memancar begitu tulus, aku merelakannya, aku merelakannya, memasuki gerbang cinta ini, bersamanya, pria berjas hitam itu, yang sejak tadi sudah menantikanmu dengan tidak sabar.
Selamat tinggal cintaku. Aku tak memerlukan lagi cintamu, karena cintaNya telah memanggilku. Sekarang aku siap berjalan bersamaNya, berpegangan pada tanganNya yang kokoh. Doakan kedamaian untukku.
**Kompasiana, 14 Februari 2011
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Bu, aku tidak pernah mengenalmu.
Walau aku mengerti betul bentuk wajahmu, cantik auramu, dan ikal rambutmu, tapi aku tidak tahu sabun apa yang kau pakai untuk mandi, apakah shampoo kita sama, dan apa warna kesukaanmu.
Yang aku tahu dari cerita ayah, kau memang cantik, teramat sangat cantik, sehingga ayah selalu cemburu padamu. Maaf Bu, aku belum sempat menanyakannya padamu tentang hal-hal kecil itu.
Kau juga tidak pernah dengar ceritaku Bu, bagaimana aku menghadapi haid pertamaku. Yang membuat jantungku berdebar karena takut. Takut yang belum tahu sebabnya. Ya, aku belum pernah mendapat penjelasan apa-apa tentang hal ini.
Mestinya akupun curhat padamu, saat pertama kalinya aku merasa kebingungan yang tiba-tiba. Tiba-tiba saja ingin bertemu dengan seseorang yang membuatku berdebar-debar, perut mulas, dan berkeringat dingin. Ingin rasanya aku mengeluarkan perasaanku dengan bercerita denganmu. Namun itu tidak pernah kulakukan.
Sepertinya adalah hal yang membahagiakan, melompat bersama saat aku dinyatakan lulus sebagai sarjana. Tapi yang terjadi, aku hanya diam menunduk. Mengingatmu.
Aku juga merasa bersalah, belum pernah membelikanmu barang yang kau inginkan, saat aku menerima gaji pertamaku. Menraktirmu makan malam, makanan kesukaanmu, yang aku sendiri tak pernah tahu. Bahkan, belanja bersamapun tidak pernah aku alami sensasinya.
Walau aku mengerti betul bentuk wajahmu, cantik auramu, dan ikal rambutmu, tapi aku tidak tahu sabun apa yang kau pakai untuk mandi, apakah shampoo kita sama, dan apa warna kesukaanmu.
Yang aku tahu dari cerita ayah, kau memang cantik, teramat sangat cantik, sehingga ayah selalu cemburu padamu. Maaf Bu, aku belum sempat menanyakannya padamu tentang hal-hal kecil itu.
Kau juga tidak pernah dengar ceritaku Bu, bagaimana aku menghadapi haid pertamaku. Yang membuat jantungku berdebar karena takut. Takut yang belum tahu sebabnya. Ya, aku belum pernah mendapat penjelasan apa-apa tentang hal ini.
Mestinya akupun curhat padamu, saat pertama kalinya aku merasa kebingungan yang tiba-tiba. Tiba-tiba saja ingin bertemu dengan seseorang yang membuatku berdebar-debar, perut mulas, dan berkeringat dingin. Ingin rasanya aku mengeluarkan perasaanku dengan bercerita denganmu. Namun itu tidak pernah kulakukan.
Sepertinya adalah hal yang membahagiakan, melompat bersama saat aku dinyatakan lulus sebagai sarjana. Tapi yang terjadi, aku hanya diam menunduk. Mengingatmu.
Aku juga merasa bersalah, belum pernah membelikanmu barang yang kau inginkan, saat aku menerima gaji pertamaku. Menraktirmu makan malam, makanan kesukaanmu, yang aku sendiri tak pernah tahu. Bahkan, belanja bersamapun tidak pernah aku alami sensasinya.
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
“Bu, nanti aku dibelikan baju princess warna putih ya, biar aku secantik Cinderella.”
“Iya sayang, Tapi jangan nakal ya, khan kalau kamu tidak nakal, walau tanpa baju princess pun, kamu akan kelihatan cantik.”
“Bu, jangan lupa sepatu kaca ya. Biar aku semakin anggun”
“Asal kau rajin berbagi, sebab dengan begitu, tanpa sepatu kacapun kau terlihat anggun”
“Ada lagi Bu, aku mau dibelikan buku yang banyak. Biar aku semakin pintar.”
“Maka rajinlah mempelajari dan memahami, tentu kau akan pintar.”
Nina mengembalikan boneka-boneka ke kotaknya. Ayahnya terharu, menyaksikan dari balik pintu, memegang sepucuk surat lusuh tertanda mendiang istrinya.***
**Kompasiana, 20 Desember 2010
“Iya sayang, Tapi jangan nakal ya, khan kalau kamu tidak nakal, walau tanpa baju princess pun, kamu akan kelihatan cantik.”
“Bu, jangan lupa sepatu kaca ya. Biar aku semakin anggun”
“Asal kau rajin berbagi, sebab dengan begitu, tanpa sepatu kacapun kau terlihat anggun”
“Ada lagi Bu, aku mau dibelikan buku yang banyak. Biar aku semakin pintar.”
“Maka rajinlah mempelajari dan memahami, tentu kau akan pintar.”
Nina mengembalikan boneka-boneka ke kotaknya. Ayahnya terharu, menyaksikan dari balik pintu, memegang sepucuk surat lusuh tertanda mendiang istrinya.***
**Kompasiana, 20 Desember 2010
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
“Wah, memang si Irfan hebat ya. Diusia yang masih muda sudah bermain dengan gemilang. Padahal ya, dia itu dulu pernah luntang-lantung lho, ditolak dari kesebelasan ini dan itu. Eh, sekarang malah jadi bintang.”
“Jangan salah, si Gonzales juga nggak kalah hebat loh. Dua kali malah dia membawa kemenangan timnas. Iya nggak? Dua kali lawan Filipina, ya si Gonzales itu yang buat gol. Pokoknya favoritku ya si Gonzales.”
“BePe tuh ya, walau sudah nggak sekenes dulu, tapi masih tangguh lo. Ya, mungkin karena faktor usia saja sih dia agak melorot. Memang sekarang jamannya si Irfan sama Gonzales.”
“Aduuuuh… kalo sayamah, teuteup Kang Maman atuhlah si jagoan. Gak ada yang ngalahin pokonamah”
Seorang bapak celingak-celinguk sambil membuka tudung saji tanpa isi di rumahnya yang sepi.
**Kompasiana, 20 Desember 2010
“Jangan salah, si Gonzales juga nggak kalah hebat loh. Dua kali malah dia membawa kemenangan timnas. Iya nggak? Dua kali lawan Filipina, ya si Gonzales itu yang buat gol. Pokoknya favoritku ya si Gonzales.”
“BePe tuh ya, walau sudah nggak sekenes dulu, tapi masih tangguh lo. Ya, mungkin karena faktor usia saja sih dia agak melorot. Memang sekarang jamannya si Irfan sama Gonzales.”
“Aduuuuh… kalo sayamah, teuteup Kang Maman atuhlah si jagoan. Gak ada yang ngalahin pokonamah”
Seorang bapak celingak-celinguk sambil membuka tudung saji tanpa isi di rumahnya yang sepi.
**Kompasiana, 20 Desember 2010
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
06.00
Hmmm .. hari baru diminggu yang kesekian… Aaah… bersiap-siap merapikan diri. Mandi dan keramas bisa membuat badanku segar menghadapi kesibukan berat hari ini.
Err… rasanya kumis dan cambangku terlalu cepat bertumbuh. Baru kemarin kucukur, hari ini sudah terlihat membiru. Yap.. cukur kumis dan cambang, biar terlihat semakin muda dan klimis.
Istriku memang hebat, dia selalu menyiapkan setelan paling cocok untuk setiap harinya. Sesuai dengan irama mood dan kesibukan hari demi hari. Seperti pagi ini, dia menyiapkan kemeja wana maroon, dengan dasi salur warna maroon dan biru dongker. Terlihat semakin gagah dan berwibawanya diriku.
Hmmm .. hari baru diminggu yang kesekian… Aaah… bersiap-siap merapikan diri. Mandi dan keramas bisa membuat badanku segar menghadapi kesibukan berat hari ini.
Err… rasanya kumis dan cambangku terlalu cepat bertumbuh. Baru kemarin kucukur, hari ini sudah terlihat membiru. Yap.. cukur kumis dan cambang, biar terlihat semakin muda dan klimis.
Istriku memang hebat, dia selalu menyiapkan setelan paling cocok untuk setiap harinya. Sesuai dengan irama mood dan kesibukan hari demi hari. Seperti pagi ini, dia menyiapkan kemeja wana maroon, dengan dasi salur warna maroon dan biru dongker. Terlihat semakin gagah dan berwibawanya diriku.
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
“Ma, Papa pulang agak malam. Ada meeting dengan buyer. Papa belum bisa antar Mama ke dokter sekarang.” SMS dari tuan besar untuk nyonya.
“Ya sudah Pa, Mama ke dokter sendiri, biar dianter si Bardi.” Balasan SMS nyonya.
“Min, suruh si Bardi siap-siap. Saya mau ke dokter sekarang.” Teriakan nyonya mengagetkanku yang sedang merapikan tempat tidur besarnya.
Aku berlari menuju ruang belakang.
“Kang, nyonya mau ke dokter. Akang diminta antar dia.”
Bardi mengangguk sambil matanya menatapku tajam. Aku begitu merindukannya, menantikannya mengucapkan kata-kata itu.
Duh, Kang.. kapan kita menikah? Sudah 2 tahun kita pacaran. Sejak aku jadi pelayan di rumah mewah ini, dan kamu jadi sopir tuan dan nyonya.
***
“Min, nyonya sudah berangkat?” Tiba-tiba tuan besar muncul dihadapanku.
“Baru saja berangkat.” Jawabku yang langsung disambut dengan pelukan eratnya. Wajahku dihujani dengan kecupan mesranya. Sedetik kemudian kamipun bergumul dalam gelora membara.
***
“Bardi, hilangkan segala kegusaranmu itu. Biarkan mereka mereguk madu manis itu. Kita juga sedang menikmatinya bukan?” Kepala nyonya disandarkan ke dada Bardi, sambil tangannya mengelus perutnya yang membuncit.
___
Repost dari Ubud Writers Festival, dalam rangka meramaikan FF di Rangkat
**Kompasiana, 8 Desember 2010
“Ya sudah Pa, Mama ke dokter sendiri, biar dianter si Bardi.” Balasan SMS nyonya.
“Min, suruh si Bardi siap-siap. Saya mau ke dokter sekarang.” Teriakan nyonya mengagetkanku yang sedang merapikan tempat tidur besarnya.
Aku berlari menuju ruang belakang.
“Kang, nyonya mau ke dokter. Akang diminta antar dia.”
Bardi mengangguk sambil matanya menatapku tajam. Aku begitu merindukannya, menantikannya mengucapkan kata-kata itu.
Duh, Kang.. kapan kita menikah? Sudah 2 tahun kita pacaran. Sejak aku jadi pelayan di rumah mewah ini, dan kamu jadi sopir tuan dan nyonya.
***
“Min, nyonya sudah berangkat?” Tiba-tiba tuan besar muncul dihadapanku.
“Baru saja berangkat.” Jawabku yang langsung disambut dengan pelukan eratnya. Wajahku dihujani dengan kecupan mesranya. Sedetik kemudian kamipun bergumul dalam gelora membara.
***
“Bardi, hilangkan segala kegusaranmu itu. Biarkan mereka mereguk madu manis itu. Kita juga sedang menikmatinya bukan?” Kepala nyonya disandarkan ke dada Bardi, sambil tangannya mengelus perutnya yang membuncit.
___
Repost dari Ubud Writers Festival, dalam rangka meramaikan FF di Rangkat
**Kompasiana, 8 Desember 2010
Label:
flash fiction
,
kompasiana
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Kulit kusamnya berpeluh dan berdebu. Tubuh kekarnya berbalut kaus oblong putih yang sudah menjadi krem. Dari ujung gang dia berjalan cepat, masuk ke sebuah rumah kecil di seberang jalan ini. Wajahnya memang asing. Tapi aku tahu siapa dia. Seorang yang sedang dikontrak sebagai borongan pada salah satu perumahan baru. Hanya tinggal sendirian saja di rumahnya yang kecil dan kumuh itu.
Bukan itu saja, aku juga mengetahui setiap detil perjalanan hidupnya. Tentu informasi yang terbukti kebenarannya, dan kudapat dari seseorang yang benar-benar terpecaya.
Ya, lelaki itu pada masa mudanya adalah seorang yang gagah rupawan. Ini yang tak terekam pada jejak dan raut mukanya kini. Begitulah, dia menjadi seorang yang digilai banyak wanita. Namun hatinya hanya tertuju pada seorang kembang desa, Maryamah.
Ada cinta tumbuh dihati mereka, mendalam. Namun menjadi terlarang karena tidak disetujui orang tua Maryama. Mereka sudah mempunyai calon untuk menjadi suami Maryamah.
Atas dasar cinta yang kuat dan berjanji sehidup semati, mereka menjadikan hubungan ini terlarang. Maryamah mengandung. Seiring dengan membuncitnya perut, si lelaki itu tiba-tiba menghilang. Lenyap ditelan senyap. Maryamah sedih, hampir saja bunuh diri. Orang tuanya dengan memaksa menikahkan Maryamah dengan lelaki pilihan mereka.
Bisa dibayangkan rumah tangga seperti apa yang dijalani Maryamah. Sang suami ternyata berperangai kasar, apalagi merasa diatas angin.
Kekerasan mewarnai kehidupan mereka. Sampai puncaknya, Maryamah harus menghadap Sang Pencipta, disaat putri mereka berumur 5 tahun. Sang suami pun ditahan.
Hff…. Aku menghela nafas. Membayangkan kisah hidup yang suram ini. Apakah lelaki itu pernah mencari tahu kabar Maryamah? Aku mengetahuinya.Apa mungkin perlu kuberitahu?
Aku masih duduk di bangku kayu warung sederhana ini. Dari dalamnya bisa kulihat rumah lelaki itu, persis di seberang jalan. Ingin sekali kudatangi rumah itu, mengeuk pintunya dan mengatakan
“Ini aku, Ratri, putri tunggal Maryamah, kekasih yang kau campakkan.. Pak!”
Dengan berat kulangkahkan kakiku… kemana? Aku sendiri tak tahu arah mana yang akan kutuju.
**Kompasiana, 3 Desember 2010
Bukan itu saja, aku juga mengetahui setiap detil perjalanan hidupnya. Tentu informasi yang terbukti kebenarannya, dan kudapat dari seseorang yang benar-benar terpecaya.
Ya, lelaki itu pada masa mudanya adalah seorang yang gagah rupawan. Ini yang tak terekam pada jejak dan raut mukanya kini. Begitulah, dia menjadi seorang yang digilai banyak wanita. Namun hatinya hanya tertuju pada seorang kembang desa, Maryamah.
Ada cinta tumbuh dihati mereka, mendalam. Namun menjadi terlarang karena tidak disetujui orang tua Maryama. Mereka sudah mempunyai calon untuk menjadi suami Maryamah.
Atas dasar cinta yang kuat dan berjanji sehidup semati, mereka menjadikan hubungan ini terlarang. Maryamah mengandung. Seiring dengan membuncitnya perut, si lelaki itu tiba-tiba menghilang. Lenyap ditelan senyap. Maryamah sedih, hampir saja bunuh diri. Orang tuanya dengan memaksa menikahkan Maryamah dengan lelaki pilihan mereka.
Bisa dibayangkan rumah tangga seperti apa yang dijalani Maryamah. Sang suami ternyata berperangai kasar, apalagi merasa diatas angin.
Kekerasan mewarnai kehidupan mereka. Sampai puncaknya, Maryamah harus menghadap Sang Pencipta, disaat putri mereka berumur 5 tahun. Sang suami pun ditahan.
Hff…. Aku menghela nafas. Membayangkan kisah hidup yang suram ini. Apakah lelaki itu pernah mencari tahu kabar Maryamah? Aku mengetahuinya.Apa mungkin perlu kuberitahu?
Aku masih duduk di bangku kayu warung sederhana ini. Dari dalamnya bisa kulihat rumah lelaki itu, persis di seberang jalan. Ingin sekali kudatangi rumah itu, mengeuk pintunya dan mengatakan
“Ini aku, Ratri, putri tunggal Maryamah, kekasih yang kau campakkan.. Pak!”
Dengan berat kulangkahkan kakiku… kemana? Aku sendiri tak tahu arah mana yang akan kutuju.
**Kompasiana, 3 Desember 2010
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Melihat mereka berduaan selalu membuatku muak. Seperti tidak ada hal penting lain yang bisa mereka lakukan selain bermesra-mesraan. Ya, pasangan paling romantis itu, menurut orang lain sih, kerap datang di taman ini, seperti membuntutiku.
Aku sudah berusaha mencari tempat yang paling damai, di sebuah bangku tua dekat pohon besar, dekat sebuah sumur tua. Bagi kebanyakan orang, tempat ini begitu suram, gelap. Tapi buatku paling indah, apalagi untuk menyembunyikan diri dari lirikan atau tatapan aneh yang seperti menghujam ke ulu hatiku..
Tapi, kenapa mereka seperti tidak tahu, kalau itu singgasanaku? Mereka menempati bangku yang bersisian dengan bangku yang kutempati untuk membaca dan menghabiskan waktu.
Selalu begitu keadaanya, dan selalu aku yang terpojok. Tidak mungkin aku mencari tempat lain. Dan dengan terpaksa tentunya aku menyaksikan drama percintaan ini setiap saat. Huh, sial!
Suara manja yang mendayu-dayu bersahutan suara bariton, menusuk-nusuk ditelingaku. Entah mereka membicarakan apa saja. Aku seperti tidak mengerti bahasa mereka. Yang kuinginkan sebenarnya hanyalah tidak ingin mendengar apa-apa. Tapi telingaku belum tuli. Huh!
Aku sudah berusaha mencari tempat yang paling damai, di sebuah bangku tua dekat pohon besar, dekat sebuah sumur tua. Bagi kebanyakan orang, tempat ini begitu suram, gelap. Tapi buatku paling indah, apalagi untuk menyembunyikan diri dari lirikan atau tatapan aneh yang seperti menghujam ke ulu hatiku..
Tapi, kenapa mereka seperti tidak tahu, kalau itu singgasanaku? Mereka menempati bangku yang bersisian dengan bangku yang kutempati untuk membaca dan menghabiskan waktu.
Selalu begitu keadaanya, dan selalu aku yang terpojok. Tidak mungkin aku mencari tempat lain. Dan dengan terpaksa tentunya aku menyaksikan drama percintaan ini setiap saat. Huh, sial!
Suara manja yang mendayu-dayu bersahutan suara bariton, menusuk-nusuk ditelingaku. Entah mereka membicarakan apa saja. Aku seperti tidak mengerti bahasa mereka. Yang kuinginkan sebenarnya hanyalah tidak ingin mendengar apa-apa. Tapi telingaku belum tuli. Huh!
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Dia ada dihadapanku. Tertawa menyeringai. Tapi aku sungguh tidak mengerti apa yang lucu baginya.
“Ada apa kamu tertawa? “
Dia tidak menjawab. Hanya tertawa.
Aku heran. Padahal setahuku dia baru saja terkena masalah, lebih tepatnya musibah.
“Apakah ada yang lucu?”
Dia semakin terbahak dengan tawanya.
Aku geram. Kenapa dia bisa begitu gembira, sedangkan suami dan anaknya sekarang entah dimana?
Aku sangat tahu. Dulu dia hidup berbahagia. Bergelimang dengan harta dan kasih sayang suaminya. Anak lelaki tunggalnya pun sudah berhasil menjadi sarjana. Namun bahagianya bersanding tipis dengan kekacauan rumah tangganya.
Kejadian seminggu yang lalu telah membuktikan bahwa cinta dan kesetiaannya sia-sia. Dengan dalih tidak ada kecocokan lagi, suaminya berhasil memasukkan orang ketiga dalam kehidupannya. Menjadi semakin parah manakala si orang ketiga adalah mantan kekasih putra tunggalnya.
Para lelaki tersebut bersitegang. Amarah dan benci menjadi letupan dahsyat perseteruan mereka. Dan setanpun tertawa menyaksikannya manakala si orang ketiga melepas ajal ditangan sang mantan.
Dia dihadapanku. Tertawa semakin terbahak.
“Hei, putramu dibui kau malah tertawa. Suamimu menghilang ditelan senyap kau malah bahagia.” Aku menghardiknya.
Dia tertawa keras, sampai-sampai air matanya mengalir. Aku tersinggung, seakan-akan aku melakukan hal yang konyol dan menggelikannya. Namun semakin aku mengingatkannya, semakin keras tawanya.
Kegeramanku memuncak. Pandanganku gelap. Dalam meraba, hanya sepatuku yang teraih.
“Prang……!”
Serpihan cermin berhamburan. Dihadapanku hanya tembok putih kusam yang menertawaiku.
**Kompasiana, 1 Oktober 2010
“Ada apa kamu tertawa? “
Dia tidak menjawab. Hanya tertawa.
Aku heran. Padahal setahuku dia baru saja terkena masalah, lebih tepatnya musibah.
“Apakah ada yang lucu?”
Dia semakin terbahak dengan tawanya.
Aku geram. Kenapa dia bisa begitu gembira, sedangkan suami dan anaknya sekarang entah dimana?
Aku sangat tahu. Dulu dia hidup berbahagia. Bergelimang dengan harta dan kasih sayang suaminya. Anak lelaki tunggalnya pun sudah berhasil menjadi sarjana. Namun bahagianya bersanding tipis dengan kekacauan rumah tangganya.
Kejadian seminggu yang lalu telah membuktikan bahwa cinta dan kesetiaannya sia-sia. Dengan dalih tidak ada kecocokan lagi, suaminya berhasil memasukkan orang ketiga dalam kehidupannya. Menjadi semakin parah manakala si orang ketiga adalah mantan kekasih putra tunggalnya.
Para lelaki tersebut bersitegang. Amarah dan benci menjadi letupan dahsyat perseteruan mereka. Dan setanpun tertawa menyaksikannya manakala si orang ketiga melepas ajal ditangan sang mantan.
Dia dihadapanku. Tertawa semakin terbahak.
“Hei, putramu dibui kau malah tertawa. Suamimu menghilang ditelan senyap kau malah bahagia.” Aku menghardiknya.
Dia tertawa keras, sampai-sampai air matanya mengalir. Aku tersinggung, seakan-akan aku melakukan hal yang konyol dan menggelikannya. Namun semakin aku mengingatkannya, semakin keras tawanya.
Kegeramanku memuncak. Pandanganku gelap. Dalam meraba, hanya sepatuku yang teraih.
“Prang……!”
Serpihan cermin berhamburan. Dihadapanku hanya tembok putih kusam yang menertawaiku.
**Kompasiana, 1 Oktober 2010
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Mata bening itu menitikkan bulir indahnya. Dalam balutan gaun putih panjangnya, dia memandangku. Bibirnya bergerak-gerak namun tak terdengar sesuatu olehku.
“Putriku, kau ingin bicara apa sayang?”
Dia bagaikan putri yang dikelilingi awan yang empuk dan halus. Tangannya melambai kepadaku. Matanya menatapku. Kosong.
“Kau mau kemana putriku? Ibu tidak ingin kehilanganmu!” Aku menjerit.
Sesosok putih bersinar melayang, berdiri ditengah kami. Memandangi kami berdua silih berganti. Lalu ia mengepakkan sayapnya dan menggamitku. Aku ringan dan terbang bersamanya.
Langit menjadi senja. Seorang gadis kecil dalam pangkuan ayahnya keluar dari kompleks pemakaman.
**Kompasiana, 27 Juli 2010
“Putriku, kau ingin bicara apa sayang?”
Dia bagaikan putri yang dikelilingi awan yang empuk dan halus. Tangannya melambai kepadaku. Matanya menatapku. Kosong.
“Kau mau kemana putriku? Ibu tidak ingin kehilanganmu!” Aku menjerit.
Sesosok putih bersinar melayang, berdiri ditengah kami. Memandangi kami berdua silih berganti. Lalu ia mengepakkan sayapnya dan menggamitku. Aku ringan dan terbang bersamanya.
Langit menjadi senja. Seorang gadis kecil dalam pangkuan ayahnya keluar dari kompleks pemakaman.
**Kompasiana, 27 Juli 2010
Label:
flash fiction
,
kompasiana
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Sekarang waktu kita untuk berdampingan
Saling berpegangan melawan rasa
Memohon pada sang detak
Sejenak membiarkan detiknya
Terpasung dalam bahagia abadi
Karena … sesaat lagi
Waktumu bukan milikku lagi
Dalam hatimu yang beku
Kutitipkan setitik kehangatan cintaku
Yang akan selalu menemanimu
mengembara menghadap Sang Khalik
———————-
* Untuk seorang sahabat (maaf kalo puisinya masih jelek)
** Terinspirasi dari kisah sedih di Cina, Zhuang Huagui (26 tahun) yang berencana menikah pada tanggal 4 Februari 2010. Tetapi pada tanggal 28 Januari 2010, calon istrinya, Hu Zhao’e meninggal karena ditusuk oleh perampok dirumahnya. Zhuang memutuskan untuk tetap mengadakan upacara pernikahan, yang dilanjutkan dengan upacara pemakaman bagi istrinya, Hu Zhao’e.
*** Foto-foto dari milis
Saling berpegangan melawan rasa
Memohon pada sang detak
Sejenak membiarkan detiknya
Terpasung dalam bahagia abadi
Karena … sesaat lagi
Waktumu bukan milikku lagi
Dalam hatimu yang beku
Kutitipkan setitik kehangatan cintaku
Yang akan selalu menemanimu
mengembara menghadap Sang Khalik
Selamat mengarungi ruang kehidupan baru
Kan kuluangkan segenggam rindu
Diujung biru hatiku
Yang akan selalu tertutup rapat
Karena kau saja
Yang dapat membukanya
———————-
* Untuk seorang sahabat (maaf kalo puisinya masih jelek)
** Terinspirasi dari kisah sedih di Cina, Zhuang Huagui (26 tahun) yang berencana menikah pada tanggal 4 Februari 2010. Tetapi pada tanggal 28 Januari 2010, calon istrinya, Hu Zhao’e meninggal karena ditusuk oleh perampok dirumahnya. Zhuang memutuskan untuk tetap mengadakan upacara pernikahan, yang dilanjutkan dengan upacara pemakaman bagi istrinya, Hu Zhao’e.
*** Foto-foto dari milis
Label:
kompasiana
,
puisi
Diposting oleh
Idea
komentar (1)
Tahukah kau,
Bulan dan Bintang ditakdirkan untuk bersama
Dan Matahari adalah kawan seperjuangan dalam masa yang berbeda
Seperti juga halnya,
Bunga dan kupu-kupu bersejoli
dalam naungan Pohon yang rindang
namun tak pernah mereguk manisnya madu.
*
Tahukah kau,
Hujan dan Pelangi adalah kesedihan dalam harapan
sesekali petir menerangi dan guruh memekakan
namun semuanya mendendangkan irama harmoni
*
Tahukah kau,
itulah cintaku padanya
yang terlindung dalam damaimu
**Kompasiana, 25 Februari 2010
Label:
kompasiana
,
puisi
Diposting oleh
Idea
komentar (1)
Cinta memang misterius dari mana hadir dan kemana arahnya tidak ada yang bisa menebak. Cinta juga mudah menular, seperti virus flu yang mudah menghinggapi siapa saja. Tidak peduli kaya miskin, jabatan tinggi atau rendah, sedang sibuk atau banyak bengong. Siapa saja bisa terkena virus ini.
Seperti diriku ini, mungkin, sudah tertular virusnya atau masih dalam taraf inkubasi. Entahlah, yang jelas sekarang aku sendiri sedang bingung menghadapi situasi hatiku yang sebenarnya. Kebingungan yang membuat perutku mendadak mulas kalau ingat satu nama itu. Nama penyebar virus cinta ini, kalau boleh dikatakan begitu.
Seperti diriku ini, mungkin, sudah tertular virusnya atau masih dalam taraf inkubasi. Entahlah, yang jelas sekarang aku sendiri sedang bingung menghadapi situasi hatiku yang sebenarnya. Kebingungan yang membuat perutku mendadak mulas kalau ingat satu nama itu. Nama penyebar virus cinta ini, kalau boleh dikatakan begitu.
Diposting oleh
Idea
komentar (0)

Aku baru saja menapakkan kakiku, kembali kekota itu. Sudah berapa lama aku tidak pernah mengunjunginya. Dan kini, diantara kesibukanku, aku memaksakan diri untuk sekedar mencari kabar dan bercakap-cakap walau hanya dalam hitungan menit.
Aku tak tahu apakah dia masih mengenaliku. Mungkin sudah banyak perubahan pada penampilanku. Jauh berbeda dengan saat aku pertama mengunjunginya.
***
Di pasar Beringharjo yang ramai, walau waktu masih menunjukkan pukul 3 dini hari, delapan belas tahun yang lalu. Aku bersama seorang teman berkeliling mengitari pasar. Niat kami mencari informasi yang dibutuhkan untuk tugas lapangan. Saat itu kami sedang mengikuti pelatihan jurnalistik..
Entah apa yang akan kami cari sebagai bahan tulisan kami. Kami hanya memandangi para wanita-wanita perkasa, yang bertugas sebagai kuli angkut dan bongkar muat pasar.
Tiba-tiba aku sadar telah terpisah dari temanku. Aku yang seorang pendatang, dengan keterbatasan bahasa, hanya bisa bingung kesana-kemari. Seorang diri diantara orang-orang yang tak kukenali hamper membuatku putus asa. Sanpai-sampai ada orang iseng yang “menawarku” segala. Wajarlah, gadis keliaran malam-malam disangka menjajakan diri. Untunglah ada seorang wanita tua penjaja gula merah yang sejak tadi memperhatikanku. Dia mengatakan kepada orang iseng tersebut kalau aku itu cucunya. Orang tersebutpun pergi sambil bergumam tak jelas.
Wanita tua itu menanyakan keadaanku dalam bahasanya yang khas. Aku terbata-bata menjawabnya.
Aku duduk sambil nyeruput teh yang ditawarkan padaku, memperhatikan wanita tua itu berjualan. Saat itu sudah pukul 5 pagi. Semakin banyak orang berbelanja, baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk warung atau usaha lainnya. Lama-lama, aku tidak bisa berdiam diri, sambil sesekali berbincang dan bercanda, walau dengan dialek yang berbeda, aku ikut membantunya, menimbang dan membungkuskan gula merah untuk para pembeli yang semakin banyak.
Tanpa terasa aku merasa begitu dekat dengan sosoknya, dibalik kesederhanaannya ada kesahajaan yang memancar. Terasa hangat olehku. Seakan aku sudah mengenalnya sebelum ini.
Tiba-tiba aku melihat temanku berjalan diantara orang-orang yang lalu lalang. Saat itu waktu menunjukkan pukul 7 pagi. (Wah ternyata, aku belum mandi… ). Akupun berlari menghampiri temanku. Kemudian kami berpamitan. Wanita itu tersenyum menyalami aku dan memelukku lama sekali. Sempat kaget karena tidak terpikir akan sedemikian sambutannya.
***
Di lorong pasar Beringharjo yang kini tampak lebih modern, aku mencari-cari diantara kios-kios yang ada. Bertanya kesana kemari akhirnya aku mendapatkan jawaban.
Wanita tua itu sudah lama tidak berjualan di pasar. Dari cerita yang simpang siur aku mendapat kesimpulan, sehari setelah bertemu denganku, putri satu-satunya tewas tertabrak truk pengangkut saat akan membantu berjualan. Sejak saat itu dia sakit jiwa, setiap hari kerjanya berkeliling pasar. Hanya berjalan.
Aku berniat pulang saat kami saling berhadapan. Pakaiannya kumal, tubuhnya bungkuk dan renta. Rambutnya gimbal. Dia sama sekali tak peduli dengan sekelilingnya. Dan akupun hanya memandangnya.
Dalam gelisah malam, kulihat sekelebat sinar dari matanya. Entah memancarkan kekecewaan atau kesedihan. Yang kutahu dari sosoknya, dengan badan membungkuk, dia melangkah terseok. Berjalan menuju samar cahaya diujung pasar.
—————–
* Hanya sempat tuk diingat
*diposting di Kompasiana, 10 Februari 2010
Label:
cerpen
,
kompasiana
Diposting oleh
Idea
komentar (0)

“Ibu, ini kenapa siiih… Khina kok gak bisa salaman sendiliiiii?” Putri kecilku ngambek sambil mau menangis.
“Aduh, Khina kenapa sih pake teriak-teriak?” Aku sedikit agak sewot juga menjawabnya. Hmmm pagi-pagi sudah ribut, mana waktu mepet dan semua serba tergesa-gesa untuk bersiap menuju aktifitas masing-masing.
Suamiku yang sedang sibuk mengurusi keperluannya untuk dibawa ke kantor langsung mendekati putri kami. “Khina kenapa” Kok tangannya dipegangi terus? Sakit?”
“Ini nih… kenapa sih tangannya Khina gak bisa salaman sendiliiiiii” Oh, ternyata dia melihat orang sedang salaman di TV yang sudah on sejak pagi.
Antara jengkel tapi juga geli, aku mendekatinya. Sambil menghirup nafas panjang (untuk meredakan emosi nih) aku duduk disampingnya. “Khina, coba salaman sama Ibu, bisa enggak?” Aku menyodorkan tangan kananku padanya. “Hihihi bisa Ibu, Khina bisa salaman!” Teriaknya kegirangan.
“Nah, itu artinya kita semua butuh orang lain, sampai salamanpun juga butuh orang lain. Gitu kan sayang?” Putriku mengangguk-angguk sambil tersenyum senang.
“Terima kasih sayang, Ibu sayang Khina!” Aku tersenyum juga.
“Khina sayang Ibu, sayang Ayah” Sahutnya sambil kembali berlari-lari dan membuat gaduh.
Pelajaran kecil di pagi hari. Buat putriku dan buatku juga. Bahwa kita hidup tidak lepas dari dukungan, bantuan dan eksistensi orang lain.
Sama seperti di Rumah Sehat Kompasiana ini, saya, anda, kita semua, butuh bantuan orang lain untuk saling membantu, mensupport satu sama lain untuk maju bersama-sama.
*Diposting di Kompasiana, 15 Januari 2010
Diposting oleh
Idea
komentar (0)
Menangis …. hanya memeluk bundanya
Tertawa …. hanya berbagi dengan bundanya
Belajar …. hanya dari mulut bundanya
Tidur …. Hanya dalam dekapan bundanya
..Ayah..
Maaf, kata bundanya, tidak ada ayah untukmu, tapi bunda sanggup buatmu kelak menjadi lelaki tangguh.
Namun untuk saat ini, bundalah lelaki tangguhmu.
Bunda akan ajarkan bagaimana menangis dalam kesepian, saat kau pertama kali bersapa dengan dunia ini. Tanpa siapapun wahai sang pemberi semangat, agar kau menjadi lelaki yang kuat.
Bunda akan ajarkan bagaimana tertawa dalam ketawaran hati, saat kecemasan berpihak dan hanya sepi yang menggigit, agar kau tak pernah merasa sepi sendiri.
Bunda akan ajarkan padamu bahwa dunia tempat segalanya, namun surgalah semuanya tertuju, agar kau menjadi lelaki bermoral penuh hati nurani.
Bunda akan mendekapmu tidur sampai kau selalu merasa aman, agar kau menjadi lelaki penyayang yang selalu melindungi yang lemah.
Namun sekali lagi, tidak ada kata ayah untukmu, biarlah bunda saja yang menjadi lelaki tangguhmu. Agar kau mengerti bagaimana menjadi kuat dalam kelembutan.
~ dedicated to my lovely sister, thanks for the inspiration~
Tertawa …. hanya berbagi dengan bundanya
Belajar …. hanya dari mulut bundanya
Tidur …. Hanya dalam dekapan bundanya
..Ayah..
Maaf, kata bundanya, tidak ada ayah untukmu, tapi bunda sanggup buatmu kelak menjadi lelaki tangguh.
Namun untuk saat ini, bundalah lelaki tangguhmu.
Bunda akan ajarkan bagaimana menangis dalam kesepian, saat kau pertama kali bersapa dengan dunia ini. Tanpa siapapun wahai sang pemberi semangat, agar kau menjadi lelaki yang kuat.
Bunda akan ajarkan bagaimana tertawa dalam ketawaran hati, saat kecemasan berpihak dan hanya sepi yang menggigit, agar kau tak pernah merasa sepi sendiri.
Bunda akan ajarkan padamu bahwa dunia tempat segalanya, namun surgalah semuanya tertuju, agar kau menjadi lelaki bermoral penuh hati nurani.
Bunda akan mendekapmu tidur sampai kau selalu merasa aman, agar kau menjadi lelaki penyayang yang selalu melindungi yang lemah.
Namun sekali lagi, tidak ada kata ayah untukmu, biarlah bunda saja yang menjadi lelaki tangguhmu. Agar kau mengerti bagaimana menjadi kuat dalam kelembutan.
~ dedicated to my lovely sister, thanks for the inspiration~
















